FOKUSKINI – Borobudur Writers and Cultural Festival tahun ini berlangsung di Hotel Grand Ina Malioboro, DI Yogyakarta hari Kamis (22/11/2018). Traveling & Diary: Membaca Ulang Catatan Harian Pelawat Asing ke Nusantara, dijadikan topik penyelenggaraan BWCF yang kini telah berlangsung buat ketujuhkalinya, dan dijadwalkan dibuka dan diresmikan oleh Prof Dr Mudji Sutrisno SJ serta Prof Dr Toeti Herati, dan Pidato Kebudayaan dari analis sejarah Nusantara dan penulis buku “Kunci Induk untuk Membaca Simbolisme Borobudur”, Dr Hudaya Kandahjaya.

Hingga 24 November mendatang, pelaksanaan BWCF yang menjadi arena eksibisi dan peluncuran buku dengan kegiatan simposium dan ceramah umum serta pemutaran film, lokakarya dongeng kreatif, dan seni pertunjukan juga dilangsungkan di area kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Agenda sesi penganugerahan Sang Hyang Kamahayanikan Award 2018 pada tahun ini menjadi gilirannya Prof Dr Tan Ta Sen, sosok peneliti sejarah Nusantara melalui peran Cheng Ho yang memiliki pandangan ke depan dalam konstelasi global dengan perjalanannya ke Tanah Jawa, Asia Tengah dan Afrika.

Untuk diketahui, seperti dijelaskan oleh Seno Joko Suyono mewakili keterangan dari pihak penyelenggara BWCF 2018, bahwa Tan Ta Sen sampai demikian rela mengeluarkan dana pribadi demi untuk dibangunnya Museum Cheng Ho. Dari kalangan penulis dan pembahas di arena BWCF “Traveling & Diary” turut menghadirkan antara lain Salim Lee, Dr S Margana, Halim HD, Prof Dr Azyumardi Azra, dan Prof Dr Taufik Abdullah.

Garis penting penyelenggaraan BWCF tahun ini, Seno melanjutkan keterangannya, adalah juga keinginan pihaknya menggabungkan perayaan dunia literasi dengan seni pertunjukan dalam tajuk Migrasi, dan mengundang koreografer seni tari dan para teaterawan termasuk diantaranya adalah Ery Mefri, Bimo Wiwohatmo, serta kelanjutan kolaborasi Suprapto Suryodarmo bersama Katsura Kan asal Jepang yang kini dilanjutkan oleh putrinya, Melati selaku seniman senirupa pertunjukan.

Saat konferensi pers BWCF 2018 antara lain dihadiri Seno Joko Suyono (nomor dua dari kiri) serta di ujung kanan, Salim Lee dan Mudji Sutrisno

Seni pertunjukan yang bukan sekadar migrasi fisik tetapi juga migrasi rohani tersebut juga menghadirkan Miroto, Cok Sawitri, Toni Broer & Katia Engel, Jarot B Darsono, Yusril Katili dan Anwari.

“Kami sejak awal melangsungkan BWCF selalu fokusnya menggarap seni klasik Nusantara, karena masih banyak yang belum digali atau bahkan tersembunyi data bukti kesejarahannya. Kajian kami selalu penyampaiannya popular akademis karena selain mengundang kelibatan langsung partisipasi kaum peneliti, penulis dan kalangan guru juga mengajak kelompok siswa sekolah untuk ramai-ramai hadir,” lanjut keterangan Seno.

Dalam kaitan kerjasama dengan Komite Buku Nasional bentukan negara yang punya program pembiayaan residensi bagi sejumlah sastrawan dan dramawan untuk bertempat tinggal beberapa bulan melakukan riset penelitian di negara benua Eropa dan Amerika, maka BWCF 2018 mengajak sebagian mereka untuk datang berbagi cerita dan memaparkan pengalaman positifnya. Mereka yang sudah memastikan hadir yaitu Martin Aleida, Agustinus Wibowo, Cok Sawitri dan Faisal Oddang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *