Fokuskini – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pelaku industri di dalam negeri masih punya semangat untuk menghadapi tantangan yang timbul dari pandemi Covid-19 dan gejolak perekonomian global. “Ini terlihat dari sektor industri yang akan mewujudkan kemandirian Indonesia dalam menanggulangi penyakit seperti industri peralatan medis dan barang habis pakai (medical devices and consumables),” ujarnya.

Pada industri peralatan medis dan barang habis pakai, potensi Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi mencapai 3 juta masker N95 dan sebanyak 4,7 miliar masker bedah per tahun, yang diproyeksi mampu memenuhi konsumsi domestik sebesar 172,2 juta per tahun.

Industri nasional juga telah mampu memproduksi massal hingga 648 juta produk hazmat untuk memenuhi konsumsi domestik tahunan yang diperkirakan mencapai 11,3 juta. Artinya, industri nasional tidak hanya mampu memenuhi konsumsi lokal, tetapi juga dapat memenuhi permintaan pasar dunia. “Ini melengkapi kemampuan kita yang sudah dapat memenuhi permintaan domestik masker kain dan surgical gown,” tandasnya.

Bahkan, beberapa produk hazmat produksi dalam negeri telah lulus uji skala internasional American Association of Textile Chemists and Colorists (AATCC) Standards; AATCC 42 (uji dampak air) dan AATCC 127 (uji tekanan hidrostatik), serta standar internasional untuk perlindungan menyeluruh terhadap bahaya biologis dan cairan (ISO 16604 level 2). “Hingga saat ini, enam dari 16 produsen dalam negeri telah disertifikasi dan bersiap untuk mengekspor dan memenuhi permintaan global,” ungkap Agus.

Sementara, untuk industri ventilator, saat ini perusahaan lokal sedang menyiapkan produksi massal untuk alat bantu pernapasan tipe darurat pada pertengahan Juli 2020. Sementara itu, produksi untuk ventilator tipe ICU akan dilakukan pada akhir Juli 2020.

“Kami sangat bangga atas capaian itu, karena menunjukkan bahwa dalam pembuatan ventilator ini, industri dalam negeri dapat memproduksi secara lokal semua komponen mekanik dengan kandungan lokal hingga 80%,” paparnya.

Pada industri farmasi, saat ini Indonesia memiliki lebih dari 220 perusahaan, di mana 90% dari mereka berfokus pada industri hilir seperti produksi obat-obatan. “Sementara untuk mengatasi ketergantungan impor, kami berkolaborasi dengan para stakeholder utama untuk menyusun kebijakan dan peraturan dalam membangun ekosistem industri yang kondusif sehingga Indonesia bisa mandiri,” ujar Agus.

Melangkah ke fase new normal, Menperin menargetkan tercapainya 35% substitusi impor pada tahun 2022. “Kami sedang menyusun kebijakan-kebijakan yang dapat menarik investor asing dan domestik untuk berinvestasi dalam menghasilkan produk substitusi impor, juga untuk meningkatkan penggunaan bahan baku yang diproduksi secara lokal dan barang setengah jadi,” jelasnya.

Kementerian Perindustrian juga bakal terus mengambil langkah strategis untuk pertumbuhan industri yang berkelanjutan dan mendukung investasi di Indonesia, baik dari domestik maupun asing. “Sebagai salah satu tujuan investasi dunia, Indonesia berupaya menjadi basis produksi ASEAN dan pemain utama dalam rantai nilai global,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *