SIDOARJO (Fokuskini/Siaran Pers) – Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) berhasil menorehkan rekor baru “Edukasi Pengenalan Obat Kepada Siswa Sekolah Dasar Terbanyak” dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Rekor diraih dengan penyelenggaraan edukasi kepada siswa SD yang dilakukan di seluruh Indonesia. Acara ini sekaligus memperkenalkan program baru IAI yaitu Apoteker Cilik.

Rekor diserahkan Jusuf Ngadri dari MURI kepada Drs Nurul Falah Eddy Pariang Apt, Ketua Umum Pengurus Pusat IAI di aula SMPN 2 Sidoarjo, Jawa Timur. Kegiatan pemecahan rekor MURI dipusatkan di Sidoarjo, Jatim karena menjadi kabupaten kota dan pemerintah propinsi yang menyumbangkan siswa peserta terbanyak, yaitu lebih dari 10.000 siswa yang tersebar di seluruh kota dan kabupaten Jawa Timur. Sementara Sidoarjo sendiri mengajak 575 siswa dalam kegiatan ini.

‘’Pemecahan Rekor MURI ini untuk memperingati World Pharmacist Day atau Hari Apoteker Sedunia yang jatuh setiap 25 September. Organisasi apoteker internasional (International Pharmaceutical Federation) mengijinkan organisasi-organisasi apoteker sedunia untuk merayakannya hingga selama 3 bulan. Kami memiliki 11-12 Oktober dengan mengadakan pemecahan rekor MURI ‘Edukasi Pengenalan Obat Kepada Siswa Sekolah Dasar Terbanyak’,’’ ungkap Nurul Falah.

Nurul berharap, acara ini akan makin mendekatkan apoteker kepada masyarakat dan memperkenalkan profesi apoteker kepada anak.

‘’Kami juga sedang berusaha agar program Apoteker Cilik ini akan menjadi program pemerintah, menjadi bagian dari UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) sebagaimana halnya dokter cilik yang sudah berlangsung 10 tahun terakhir. Apoteker Cilik ini akan membantu teman-temannya di sekolah untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan obat, agar terhindar dari penyalahgunaan obat dan penggunaan yang salah,’’ tambah Nurul.

Menurut Dr Abdul Rahem Mkes Apt selaku Ketua PD IAI Jawa Timur, pengenalan obat dilakukan sejak usia sekolah dasar karena anak-anak di usia itu akan mampu merekam informasi lebih baik dan lebih lama dibandingkan anak yang lebih besar. Diharapkan dengan diberi bekal yang cukup mengenai penyalahgunaan obat dan penggunaan obat yang salah kepada siswa sekolah dasar, akan mampu mencegah mereka kelak melakukan penyalahgunaan obat,’’ terang Abdul Rahem.

Rekor MURI kali ini diikuti oleh 91.808 siswa SD, dengan melibatkan 11.484 apoteker serta 1.748 sekolah dasar. Mereka berasal dari 325 pengurus cabang dari 342 pengurus cabang yang dimiliki IAI, dari 34 propinsi di seluruh Indonesia

‘’Awalnya kami hanya menargetkan peserta sebanyak 30.000 siswa,tetapi ketika pengumuman disampaikan kepada PD dan PC, ternyata sejawat di daerah sangat antusias menyambut program kami. Dari hari ke hari jumlah peserta terus bertambah, sehingga akhirnya terkumpul 91.808 siswa yang mendapat edukasi. Di salah satu PC di Banten misalnya, mereka hanya mendaftarkan 200 siswa, tetapi saat acara berlangsung ternyata yang hadir lebih dari 1.200 siswa,’’ tambah Lilik Yusuf Indrajaya Ssi MM Apt, Koordinator Acara yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PP IAI.

Program Apoteker Cilik yang diawali dengan pemecahan Rekor MURI ini tidak akan berhenti disini. Para apoteker akan terjun ke sekolah-sekolah dasar untuk memberikan pengenalan mengenai obat kepada siswa sekolah dasar, hingga mereka memiliki ketrampilan yang cukup untuk disebut sebagai apoteker cilik.

‘’Setelah acara ini kami akan terus mendatangi sekolah-sekolah untuk mengajak anak mengenali obat sejak dini. Pengenalan obat sejak dini ini penting, karena dalam beberapa survei ditemukan, bahwa remaja yang menyalahgunakan obat, dikarenakan ketidaktahuan mereka akan bahayanya penyalahgunaan obat,’’ tambah Tri Widiyartiningsih Ssi Apt, Ketua PC IAI Sidoarjo.

Edukasi kepada siswa sekolah dasar ini dilakukan dengan cara yang menarik, sesuai usia mereka. Sejumlah permainan dilakukan seperti ular tangga, permainan bad choice dan good choice, menyanyikan jingle Apoteker Cilik sembari menari, serta kuis dengan berbagai hadiah.

PP IAI memberikan keleluasan kepada pengurus cabang dan daerah agar sekreatif dan semenarik mungkin menyelenggarakan acara ini. PC Bekasi misalnya, membawa kue tart dengan desain apoteker cilik, PC Kabupaten Semarang membuat tempat pinsil dengan desain apoteker cilik dan masih banyak lagi

Senior Manajer MURI, J Ngadri memberikan apresisasi penuh kepada IAI yang menginisiasi acara ini. Kegiatan yang baru pertamakali digelardi Indonesia ini tercatat di MURI dengan nomor 9219/R.MURI/X/2019.

‘’Ini kegiatan yang spektakuler, belum pernah ada edukasi pengenalan obat terhadap anak-anak SD,’’ kata Ngadri, usai menyerahkan piagam MURI.

Menurut Ngadri, kegiatan ini sangat penting untuk pembelajaran kepada anak-anak sejak dini. Mereka diberikan pengetahuan mengenai bagaimana meminum obat, seberapa banyak dan bagaimana menyimpan dengan baik dan benar. Anak-anak juga diberi pengetahuan mengenai membuang obat yang sudah tidak layak dikonsumsi. Dengan edukasi seperti ini, ia berharap anak-anak lebih dewasa mengenali obat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *