FOKUSKINI – Publik diajak untuk lebih memahami siapa itu Leon Agusta (1938-2015), seniman penyair, budayawan dan pekerja seni teater yang layak dihormati di Indonesia. Paul Agusta memeriksa ingatan tentang ayahnya itu, tentang kenapa beliau dijuluki “Penyair Biru“. Biru yang menjadi ciri khas puisi-puisinya. Biru yang menggambarkan perjalanan hidupnya.

Paul Agusta memeriksa asal kebiruan tersebut. Menyusun potongan-potongan itu, dan melihat apa yang membuatnya begitu biru. Oleh karena itu dia bersama Katia Engel kini telah rampung memproduksi film dokumenter elegi yang menumpuk catatan panjang tragedi manusia melawan negara. Lalu berziarah pada ketidakberdayaannya, kepedihan dan kesedihan yang tidak terselesaikan.

Satu per satu kerabat dan sahabat bersaksi. Menuturkan arti, memori, dan puisi sang terkasih. Ketidakadilan diungkit, kesedihan menyerbu, tetapi “Semua Sudah Dimaafkan Sebab Kita Pernah Bahagia”. Begitulah judul film dokumenter yang sekaligus bakal didiskusikan dengan pembicara utama M Fauzi Sukri di Balai Soedjatmoko Solo hari Rabu nanti (14/11/2018) mulai jam 19.30 WIB.

Film dokumenter dibuat dari ingatan sang anak, Paul Agusta serta keluarga dan sahabatnya. Penelusuran dibingkai dari puisi, yang juga menggambarkan potret diri, mengapa Leon bersedih?

Temuan oleh Paul Agusta sekaligus menjelaskan mengapa ayahnya dijuluki penyair biru. Kebiruannya berasal dari beberapa sumber berupa kepedihan akibat pengalaman langsung dengan kekerasan, kesedihan dan kepedihan berkelanjutan dari masalah pribadi, hingga gejolak emosional hasil introspeksi, serta kemarahan dan rasa frustasi soal keadaan politik.

Ini adalah film dokumenter berdurasi terhitung panjang yang menceritakan tentang luka dan bagaimana luka itu memengaruhi hidup manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *