FOKUSKINI – Tanpa perencanaan maupun pengembangan, sistem transportasi umum angkutan kota utamanya di jalan raya kota Jakarta sebagai ibukota negara republik ini jadi daya tarik perhatian Rémi Desmoulière yang tengah mempersiapkan disertasinya di jurusan geografi Institut Nasional Bahasa-bahasa dan Peradaban Timur (INALCO), Pusat Studi Ilmu Sosial Afrika, Amerika, dan Asia (CESSMA).

Disertasinya bermuatan penelitian tentang lingkungan sosial para sopir, pemilik, dan organisasi minibus di Jakarta. Pada 31 Oktober nanti, dia mulai jam 17.30 WIB di IFI Thamrin, Jakarta Pusat mengagendakan seminar pembicaraan tentang Metro Mini dan Kopaja menjadi kambing hitam kesemerawutan megapolitan dengan pertumbuhan yang tidak terkendali.

Media dan tokoh-tokoh politik mengutuk kebobrokan dan ketidakdisiplinan para pengemudinya. Di luar kontradiksi antara daya tarik dan penolakan ini, minibus memperlihatkan sebuah sistem transportasi yang dibuat dan dioperasikan selama lebih dari setengah abad dari dan untuk penduduk kota besar seperti Jakarta.

Mungkin persoalannya lebih menarik, apabila Rémi juga memahami kenapa mereka kini seperti dikurangi nafkah pendapatannya karena terbilang “salah sendiri” ketika di masa lalu menjadi instrumen transportasi urgen tetapi melayani para penumpangnya dengan seenak semaunya antara lain mengeruk biaya ongkos dalam kondisi berjejalan melebihi kapasitas bangku yang ada, dan kesemua konsumen pelanggan transportasi dipaksa menghirup aroma peluh serta dikungkung panasnya ruang interior bus yang menyesakkan, ditambah lagi risiko tiap individu warga yang seringkali mesti pasrah menghadapi kelompok pencopet yang selalu siap untuk berlaku ganas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *